Pada akhir tahun 2021 ini, publik tanah air dikejutkan dengan kasus HW, seorang guru pesantren di Kecamatan Cibiru, Kota Bandung yang telah merudapaksa 14 santrinya. Berita terakhir bahkan menyebutkan tidak hanya 14 santri tapi 21 santri yang 8 orang di antaranya hamil dan melahirkan.

Disinyalir kasus ini hanyalah fenomena gunung es dimana masih banyak kasus lain yang belum terungkap. Seperti dugaan terbaru soal kasus oknum guru pesantren di Tangerang yang mencabuli 9 orang santrinya.

Tentu saja publik marah dan memaki-maki pelaku. Tidak sedikit publik yang menyalahkan keberadaan pesantren sebagai lembaga pendidikan Islam. Pesantren dianggap tidak lagi aman dijadikan sebagai tempat anak-anak belajar dan menimba ilmu agama.

Padahal sudah sejak dulu pesantren merupakan lembaga pendidikan Islam khas tanah air yang sudah melahirkan tokoh-tokoh besar. Kiprah pesantren sebagai lembaga pendidikan, dakwah dan pemberdayaan masyarakat sangatlah luar biasa. Pada masa perjuangan kemerdekaan Indonesia, kontribusi pesantren juga tidak bisa dipandang sebelah mata.

Oleh karena itu jangan sampai kasus HW ini dan beberapa kasus yang lain menjadi stigma negatif kepada pesantren. Pemerintah harus mengusut kasus ini dengan tuntas hingga ke akar-akarnya. Ungkap jika ada doktrin keagamaan yang menyimpang. Kembalikan nama baik pondok pesantren sebagai lembaga pendidikan keagamaan yang mampu mencetak generasi terbaik dan bermanfaat bagi umat.

Pesantren di Masa Kejayaan Islam

Setelah melihat masalah pesantren yang bertubi-tubi, menjadi pertanyaan besar bagaimana keadaan sistem pendidikan ketika masa kejayaan Islam?

Islam pernah mencapai masa kejayaannya tidak terkecuali dalam bidang pendidikan. Para khalifah yang memerintah dari berbagai kekhalifahan, seperti Abbasiyah, Fatimiyyah, Ottoman, dan Umayyah, mendirikan berbagai lembaga pendidikan. Selama masa kekhalifahan Islam, tercatat beberapa lembaga pendidikan Islam yang terus berkembang dari dulu hingga sekarang.

Beberapa lembaga pendidikan itu, antara lain, Nizamiyah di Baghdad, Al-Azhar di Mesir, al-Qarawiyyin di Fez, Maroko, dan Sankore di Timbuktu, Mali, Afrika. Masing-masing lembaga ini memiliki sistem dan kurikulum pendidikan yang sangat maju ketika itu. Dari beberapa lembaga itu, berhasil melahirkan tokoh-tokoh pemikir dan ilmuwan Muslim yang sangat disegani. Misalnya, al-Ghazali, Ibnu Ruysd, Ibnu Sina, Ibn Khaldun, Al-Farabi, al-Khawarizmi, dan al-Ferdowsi.

Itulah gambaran pendidikan Islam yang pernah mengalami puncak kejayaan dan menjadi simbol kegemilangan peradaban Islam. Tidak pernah dijumpai kasus-kasus seperti yang terjadi di dunia pesantren saat ini. Semua keberhasilan ini tentu tidak terlepas dari kekhilafahan Islam yang menerapkan Islam secara menyeluruh. Wallohu alam bish showab.

 

retizen.republika.co.id/posts/22434

/bukan-salah-pendidikan-islam